Latest Entries »

Indahnya Menjadi Perempuan

Satu ketika, salah seorang teman pernah mengeluh begini “Lebih enak jadi laki-laki daripada perempuan.” Benarkah? Saya pun menatap sang teman dengan pandangan heran dan kasihan. Pernyataan yang meluncur dari bibir seseorang mampu menunjukkan kualitas batinnya. Ada apakah denganmu, perempuan?

Usut punya usut ternyata ibunya suka memperlakukan tidak adil antara anak perempuan dengan laki-lakinya. Dalam banyak hal, anak laki-laki mendapat perlakuan istimewa dibanding saudari-saudarinya. Misalnya saja dalam hal makan. Anak-anak laki-laki pasti diberi jatah daging ayam yang paling besar dan empuk, sedangkan anak-anak perempuan diberi yang banyak tulang dan kecil. Belum lagi dalam hal pakaian, pendidikan, dan lain-lain. Jadilah sebuah persepsi muncul di benak seorang anak perempuan bahwa menjadi laki-laki jauh lebih baik. View full article »

A Muslim Women


A believing women, virtuous, sincere, pure, on the Right path, a mother, a sister, a wife, a protector, an educator, a keeper of purity of the hearts, a Mujaheedah, – a Muslim women

About the position and the role of a Muslim women within the Islamic Society, the Qur’anic text is speaking a lot of, in various contexts and numerous verses and chapters.

The word ‘women’ in Qur’an is mentioned on 56 places, in 50 various verses and 15 various chapters. The word ‘woman’ we find on 26 places, 25 various verses and 8 various chapters.

The third largest Qur’anic chapter is entitled as ‘An-Nisa’ which means ‘Women’.

This alone is speaking much about the venerable position Allah gave a women in Islam, about her glorious place in it, and the blessed loftiness. With lots of attention and clear reasons the Qur’anic text is speaking about women who had an emphasized place and role in the process of building the humanity, such as mother of Musaa alayhi Salam, or Balqis, the Queen of Sabah, or Maryam, the mother of Isaa alayhi Salam, or Asya, a pharaoh’s wife… View full article »

NKRI berlandaskan Pancasila

Pancasila -yang notabene hasil pemikiran manusia- adalah dasar negara ini, sehingga para thaghut RI dan aparatnya menyatakan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup, dasar negara RI serta sumber kejiwaan masyarakat dan negara RI, bahkan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia. Oleh sebab itu pengamalannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia dan setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengamalan Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan serta lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah. (Silahkan lihat buku-buku PPKn atau yang sejenisnya).

Jadi dasar negara RI, pandangan hidup dan sumber kejiwaannya bukanlah Laa ilaaha illallaah, tapi falsafah syirik Pancasila thaghutiyyah syaithaniyyah yang digali dari bumi Indonesia bukan dari wahyu samawiy ilahiy. View full article »


Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat semuanya. Wa Ba’du:

Sesungguhnya jika orang kafir ragu atau tidak mengetahui kekafiran dirinya sendiri, maka itu bisa kita maklumi. Namun sangatlah tidak wajar kalau orang yang mengaku bara dari orang kafir, namun tidak mengetahui bahwa orang yang di hadapannya adalah kafir, padahal segala tingkah laku, keyakinan dan ucapannya sering dia lihat dan dia dengar.

Banyak orang yang mengaku Islam bahkan mengaku dirinya bertauhid tidak mengetahui bahwa negara tempat ia hidup dan pemerintah yang yang bertengger di depannya adalah kafir. Ketahuilah, sesungguhnya keIslaman seseorang atau negara bukanlah dengan sekedar pengakuan, tapi dengan keyakinan, ucapan dan perbuatannya.

Sesungguhnya kekafiran Negara Indonesia ini bukanlah hanya dari satu sisi yang bisa jadi tersamar bagi orang yang rabun. Perhatikanlah, sesungguhnya kekafiran negara ini adalah dari berbagai sisi, yang tentu saja tidak samar lagi, kecuali atas orang-orang kafir. Inilah sisi-sisi kekafiran Negara Indonesia dan pemerintahnya: View full article »


Dalam kehidupannya, setiap manusia yang telah baligh dan berakal, laki-laki atau wanita, kelak di ‘yaumul akhir’ akan dimintai pertanggung jawaban atas segala amal perbuatannya selama di dunia. Jika telah mencapai usia baligh, dapat dikatakan bahwa setiap manusia, termasuk juga wanita -minimal- adalah Pemimpin bagi dirinya sendiri. Baru kemudian peran dan tanggung jawab kepemimpinan seorang Muslimah akan berkembang dan melebar dalam peran-peran yang akan diembannya di kemudian hari.

Abdullah bin Umar r.a. mengabarkan, bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Setiap kamu adalah Pemimpin. Dan setiap Pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya, dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya”(HR. Bukhari)

Dari ibnu Umar dikatakan bahwa Rasulullah bersabda :”….dan wanita / istri adalah pemimpin atas penghuni rumah suaminya dan anaknya, dan dia bertanggung jawab atas mereka.(HR. Bukhari dan Muslim). View full article »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.